Entah sejak kapan aku begitu menyukai senja, Setiap melihat senja hanya ada rasa bahagia yang mendera relung hatiku. Senja memang begitu mempesona, bahkan puisi-puisi tentang keelokan senja bertebaran. Menatap, memandang, meresapi senja merupakan ungkapan yang tak terlukiskan.
Senja..........
Ijinkan aku mencintainya, walau hanya dihati saja, tak terungkapkan, dalam diam tak bertuan. Wahai hati diamlah kau walau sejenak, janganlah kau berteriak menyebutkan namanya, nama yang bahkan tak berhak kau bisikkan.
Senja.............
Akan selalu menjadi senja nan elok berbalut cahaya jingga keemasan, layaknya dirimu, kau dengan segala pesonamu, dikelilingi aneka ragam keindahan, yang tak mampu kuraih, walaupun kau dekat sedekat udara pagi.
Senja..........
Hanya kaulah teman dikala sunyi, matahari yang seakan enggan meninggalkan peraduannya, menyisakan gelap yang kelam. Tersisa tangisan nan pedih, pilu, tak terungkapkan kata-kata. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, bersatu di peraduan asmara.
Setiap melihat senja yang kuingat hanyalah dirimu, kenangan bersamamu, kini kau pun menjauh, kita pun terpisahkan oleh jarak yang terhampar jauhnya.
Dan hanya senja yang bisa menghibur segala lara, warna lembayungnya seakan mengatakan " tidak apa-apa sayang"
Senja............
Kirimkan salamku padanya, katakan aku merindunya, rindu yang mendalam, tak bertepi. Rindu yang hanya mampu terpendam dalam jiwa, menunggu untuk diungkapkan, namun bibirku terasa kelu, aku hanya bisa diam beribu bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar