Jumat, 21 Oktober 2016

Memasak

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata memasak? Senang, suka sekali, malesin, ribet dll. Demikian pula saya mendengar kata memasak pikiran langsung menuju ke dapur dengan aneka ragam peralatan dari yang kecil hingga besar. Aneka bumbu yang bahkan membedakannya aja begitu sulit, antar ketumbar dengan merica perbedaannya begitu tipis. Lengkuas, jahe, kencur, kunir dll ah betapa susahnya mengingat aneka umbi-umbian tersebut. Belum bau-bauan yang begitu menyengat hidung, seperti bawang merah, bawang putih, bahkan terasi yang membuat mual.

Sebagai seorang gadis, saya diwajibkan oleh budaya untuk bisa memasak, apalagi gadis jawa dimana semua orang mengatakan "anak wedhok kok ra tau sobo pawon" mulai dari nenek hingga ibu mengatakan hal yang sama. Tetapi saya beruntung, mempunyai kedua orang tua yang berpikiran modern, Ibu tidak pernah memaksa saya untuk bisa memasak, bahkan ke dapur saja beliau tidak memaksa, hanya saja sebagai seorang anak ada kewajiban tak tertulis untuk membantu orang tua, hal tersebut yang membuat saya mau tidak mau ke dapur, minimal membantu mencuci piring lah.

Demikianlah dengan semakin sering saya membantu ibu di dapur sedikit demi sedikit saya paham mengenai peralatan yang ada di dapur, aneka bumbu, sayuran, bahkan teknik memasak juga saya pahami. Termasuk nguleg sambel dimana hasilnya tangan pegal, panas ditambah bersin-bersin yang tidak selesai juga. Tetapi saya bertekad untuk bisa memasak, karena jika memasak saja yang sepele tidak bisa bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan persoalan lain yang lebih rumit, hal tersebut yang membuat jiwa muda saya tertantang #jiaaah. 

Dan kesempatan untuk membuktikan tantangan hidup saya pun tiba, ceileeh lebay, hari itu dimulai saat Ibu pergi rewang ke rumah tetangga yang sedang mantu. Ibu pergi tanpa memasak terlebih dahulu, hanya meninggalkan sayuran berupa pare yang ada di kulkas, Ibu berpesan " iki mengko parene di olah yo, nek ra iso tuku lawuh wae", sebenarnya lebih mudah untuk membeli lauk ke warung hanya saja Ibu juga tidak meninggalkan uang sepeserpun, jadi kalau mau tombok ya sayang dong uangnya. Alhasil saya pun memasak. Bahan yang saya siapkan pertama kali tentu saja pare tiga buah, bawang merah, bawang putih, cabe, pete, namun setelah sekian lama bongkar kulkas tidak menemukan pete akhirnya saya menyerah ah sudahlah ganti terasi saja.

Acara memasak pun dimulai, diawali dari mengiris pare, membuang isinya, kemudian mengiris tipis-tipis dan diuleni pakai garam agar layu, setelah itu mengiris bawang merah yang diwarnai dengan drama air mata buaya, dilanjutkan bawang putih dan cabe, selesaaaaaaiiiii....... belum. Masih mentah saudara sekalian. Saya menyalakan kompor, menaruh wajan yang pantatnya legam efek dari pemakaian tungku kayu jaman dahulu, kemudian menuang minyak goreng sedikit saja untuk menumis aneka bumbu tadi.

Adegan selanjutnya adalah menumis, yah mudah lah cuma menumis kok, demikian pikiran saya. Kenyataannya tidak semudah itu, jika api terlalu besar tumisan berubah menjadi gosong demikian pula jika terlalu kecil kapan matengnyaaaaaa....... Kemudian setelah aneka bumbu tadi agak layu saya masukkan terasi, terasi instan saja merk A. Ternyata bau terasi saat dibakar atau digoreng nikmat sekali berbeda saat mentah. Setelah itu saya masukkan potongan pare yang telah dicuci bersih agar tidak terlalu pahit nantinya. Oke selesai........ belum juga, saya masih harus memberi garam, gula, dan kaldu bubuk agar masakan lebih nikmat, kemudian diberi sedikit air dan di tutup agar sayuran cepat matang, setelah beberapa menit taaaadaaaa akhirnya masakan saya matang, saya terharu.

Saya kemudian melihat jam, Oh astaga Bapak belum dhahar pagi ini, kebetulan sayur pare sudah matang dan siap dihidangkan. Saya mengambil piring kemudian menyendok nasi dan sayur pare karya saya tadi. Bapakpun terlihat makan dengan nikmat, saya bersyukur bapak kerso dhahar masakanku. Bapak tidak berkomentar apapun tentang masakan saya, berarti masakan saya cukup lumayan lah di lidah bapak. Tidak lama kemudian Ibu pulang dari rewang melihat Bapak sedang dhahar Ibu pun bertanya "Bapakmu mau tok masakke opo?", saya jawab " jangan pare Bu" Ibu diam saja, dalam hati saya bersyukur oh saya sukses memasak hari ini.

Diluar Bapak dan Ibu sedang berbincang, entah apa yang mereka perbincangkan, "ah paling juga soal tetangga yang mantu" pikir saya. Ketika saya lewat lamat-lamat terdengar suara Bapak "koyo jamu". Saya berhenti apa yang seperti jamu? Suara Bapak terdengar lagi " jangane paite nyethak, koyo bar ngombe jamu" #gubraaaaak saya terdiam. Kemudian saya mencoba memakan sayur hasil karya saya tadi, hueeeeeek rasanyaaaaa pait buanget. Tanpa sadar Ibu ada di samping saya, "kuwi jangane iseh mentah, durung mateng makane pait nyethak, kene tak balenane" kata Ibu. Ah Ibu tanpamu dunia memang terasa hampa #cry. Setelah di masak ulang oleh Ibu saya mencoba mencicipi lagi, walau masih terasa pahit tetapi lebih enak dimakan daripada awal tadi. Ternyata memasak memang tidak mudah, perlu ketekunan dan kesabaran luar biasa, walau terlihat sepele namun sulit. Menjadi seorang koki atau juru masak bahkan perlu pendidikan dan skill yang mumpuni. Walau hasilnya masih jauh dari nikmat namun, tidak membuat saya menyerah untuk belajar memasak, bahkan sampai sekarang pun saya masih belajar memasak dan belum pandai juga memasak

Memasak memang menyebalkan tetapi membuat ketagihan, Terima kasih Ibu sudah mengajari aku memasak, tetap masakanmu lah yang paling nikmat sedunia. Saya berharap bisa sepandai Ibu, dan memasak untuk keluarga kecilku nanti.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar