Begitulah tulisan yang sering dipasang di depan toko buku, perpustakaan, dll, mengapa membaca perlu dibudayakan?
Ada beberapa alasan mengapa membaca perlu dibudayakan salah satunya adalah karena masyarakat Indonesia terlalu sering membiasakan diri mendengar, apa saja didengar termasuk gosip.
Apabila kita mendengar maka informasi yang didapat bisa saja hanya sepotong karena informasi tersebut didapat dari beberapa sumber dan dari mulut ke mulut yang tentu saja telah mengalami berbagai modifikasi #plaak. Apabila membaca maka informasi tersebut tertulis secara gamblang dan kalaupun terpotong maka akan terasa ambigu dan bisa ditemukan potongan yang lainnya.
Dengan majunya teknologi akses informasi dapat didapat dengan mudah termasuk dari sosial media, seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dsb, akan tetapi informasi yang di sebarluaskan melalui seosial media juga tidak bisa ditelan mentah-mentah begitu saja, perlu pemahaman dan nalar dari pembaca, karena semua itu mengandung multi tafsir. Saya banyak menemukan komentar berbau rasis, bullying di akun-akun publik figur bahkan di akun teman saya yang hanya orang biasa, mengapa teman saya bisa dibully sedemikian rupa padahal apa yang di share di sosmed bukanlah hal yang buruk. Hal tersebut karena anak jaman sekarang yang tidak pernah membiasakan diri membaca caption mereka hanya menerka dari gambar yang di pajang di sosmed tanpa memahami tulisan yang menyertainya sehingga menimbulkan rasa tersinggung, marah, emosi yang meluap sehingga berkomentar tidak pantas di akun seseorang, padahal belum tentu apa yang di share ditujukan untuk dirinya.
Apakah membaca sebuah tulisan sedemikian sulitnya, lalu apa yang mereka pelajari di sekolah? Bukankah sekolah mengajari mereka untuk membaca dan menulis? Ataukah karena membaca sudah terlalu mainstream sehingga begitu membosankan, lalu apa gunanya buku-buku dicetak, dijual, jika membaca sudah tidak menarik lagi, profesi penulis pun akan menghilang di telan jaman. Saya pun kembali ke masa kecil, dimana dulu berjam-jam menanti bis perpustakaan keliling, mengantri masuk, bahkan berebut buku dengan teman, hal yang sangat menyenangkan, apalagi bis perpustakaan keliling masih termasuk baru, buku-buku yang dibawa juga buku baru. Setiap hari Selasa dan Kamis bis perpustakaan keliling berhenti di dekat Kantor Polisi dekat rumah.
Alangkah menyenangkannya apabila bis perpustakaan keliling kembali menyambangi anak-anak seperti dulu, sehingga anak-anak kembali menggiatkan progam membaca, tidak hanya bermain sosmed yang kadang isi dari sosmed belum layak untuk mereka terima. Mungkin memang ada e-book yang bisa di unduh dari internet, akan tetapi membaca sebuah buku jauh lebih menarik, lebih menantang dan, tentu saja lebih nyaman di mata daripada ponsel.
Hanya sekedar uneg-uneg dari seorang kutu buku..........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar