Hujan......
hujan datang hari ini begitu tiba-tiba,
bak airmata yang menggenang di pelupuk mata
menetes perlahan lalu menghujam tanah
seakan melampiaskan amarah
Angin berhembus lirih, bisikkan sepi
senandungkan hati yang tersakiti
mencoba menepis semua ilusi
menatap asa yang tak pasti
Hujan hari begitu lebat
membawa rindu yang menggelora hebat
meniupkan perih yang mendalam
pada hati yang terhujam
Hujan......
sampaikan salamku padanya
salam hangat ingin bersua
dari hati yang terluka
atas asmara tersia-sia
Selasa, 01 November 2016
Senin, 31 Oktober 2016
Senja ( 2 )
Senja..........
Entah sejak kapan aku begitu menyukai senja, Setiap melihat senja hanya ada rasa bahagia yang mendera relung hatiku. Senja memang begitu mempesona, bahkan puisi-puisi tentang keelokan senja bertebaran. Menatap, memandang, meresapi senja merupakan ungkapan yang tak terlukiskan.
Senja..........
Ijinkan aku mencintainya, walau hanya dihati saja, tak terungkapkan, dalam diam tak bertuan. Wahai hati diamlah kau walau sejenak, janganlah kau berteriak menyebutkan namanya, nama yang bahkan tak berhak kau bisikkan.
Senja.............
Akan selalu menjadi senja nan elok berbalut cahaya jingga keemasan, layaknya dirimu, kau dengan segala pesonamu, dikelilingi aneka ragam keindahan, yang tak mampu kuraih, walaupun kau dekat sedekat udara pagi.
Senja..........
Hanya kaulah teman dikala sunyi, matahari yang seakan enggan meninggalkan peraduannya, menyisakan gelap yang kelam. Tersisa tangisan nan pedih, pilu, tak terungkapkan kata-kata. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, bersatu di peraduan asmara.
Senja..............
Setiap melihat senja yang kuingat hanyalah dirimu, kenangan bersamamu, kini kau pun menjauh, kita pun terpisahkan oleh jarak yang terhampar jauhnya.
Dan hanya senja yang bisa menghibur segala lara, warna lembayungnya seakan mengatakan " tidak apa-apa sayang"
Senja............
Kirimkan salamku padanya, katakan aku merindunya, rindu yang mendalam, tak bertepi. Rindu yang hanya mampu terpendam dalam jiwa, menunggu untuk diungkapkan, namun bibirku terasa kelu, aku hanya bisa diam beribu bahasa.
Entah sejak kapan aku begitu menyukai senja, Setiap melihat senja hanya ada rasa bahagia yang mendera relung hatiku. Senja memang begitu mempesona, bahkan puisi-puisi tentang keelokan senja bertebaran. Menatap, memandang, meresapi senja merupakan ungkapan yang tak terlukiskan.
Senja..........
Ijinkan aku mencintainya, walau hanya dihati saja, tak terungkapkan, dalam diam tak bertuan. Wahai hati diamlah kau walau sejenak, janganlah kau berteriak menyebutkan namanya, nama yang bahkan tak berhak kau bisikkan.
Senja.............
Akan selalu menjadi senja nan elok berbalut cahaya jingga keemasan, layaknya dirimu, kau dengan segala pesonamu, dikelilingi aneka ragam keindahan, yang tak mampu kuraih, walaupun kau dekat sedekat udara pagi.
Senja..........
Hanya kaulah teman dikala sunyi, matahari yang seakan enggan meninggalkan peraduannya, menyisakan gelap yang kelam. Tersisa tangisan nan pedih, pilu, tak terungkapkan kata-kata. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, bersatu di peraduan asmara.
Setiap melihat senja yang kuingat hanyalah dirimu, kenangan bersamamu, kini kau pun menjauh, kita pun terpisahkan oleh jarak yang terhampar jauhnya.
Dan hanya senja yang bisa menghibur segala lara, warna lembayungnya seakan mengatakan " tidak apa-apa sayang"
Senja............
Kirimkan salamku padanya, katakan aku merindunya, rindu yang mendalam, tak bertepi. Rindu yang hanya mampu terpendam dalam jiwa, menunggu untuk diungkapkan, namun bibirku terasa kelu, aku hanya bisa diam beribu bahasa.
Jumat, 28 Oktober 2016
Membaca
Budayakan Membaca!!!
Begitulah tulisan yang sering dipasang di depan toko buku, perpustakaan, dll, mengapa membaca perlu dibudayakan?
Ada beberapa alasan mengapa membaca perlu dibudayakan salah satunya adalah karena masyarakat Indonesia terlalu sering membiasakan diri mendengar, apa saja didengar termasuk gosip.
Apabila kita mendengar maka informasi yang didapat bisa saja hanya sepotong karena informasi tersebut didapat dari beberapa sumber dan dari mulut ke mulut yang tentu saja telah mengalami berbagai modifikasi #plaak. Apabila membaca maka informasi tersebut tertulis secara gamblang dan kalaupun terpotong maka akan terasa ambigu dan bisa ditemukan potongan yang lainnya.
Dengan majunya teknologi akses informasi dapat didapat dengan mudah termasuk dari sosial media, seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dsb, akan tetapi informasi yang di sebarluaskan melalui seosial media juga tidak bisa ditelan mentah-mentah begitu saja, perlu pemahaman dan nalar dari pembaca, karena semua itu mengandung multi tafsir. Saya banyak menemukan komentar berbau rasis, bullying di akun-akun publik figur bahkan di akun teman saya yang hanya orang biasa, mengapa teman saya bisa dibully sedemikian rupa padahal apa yang di share di sosmed bukanlah hal yang buruk. Hal tersebut karena anak jaman sekarang yang tidak pernah membiasakan diri membaca caption mereka hanya menerka dari gambar yang di pajang di sosmed tanpa memahami tulisan yang menyertainya sehingga menimbulkan rasa tersinggung, marah, emosi yang meluap sehingga berkomentar tidak pantas di akun seseorang, padahal belum tentu apa yang di share ditujukan untuk dirinya.
Apakah membaca sebuah tulisan sedemikian sulitnya, lalu apa yang mereka pelajari di sekolah? Bukankah sekolah mengajari mereka untuk membaca dan menulis? Ataukah karena membaca sudah terlalu mainstream sehingga begitu membosankan, lalu apa gunanya buku-buku dicetak, dijual, jika membaca sudah tidak menarik lagi, profesi penulis pun akan menghilang di telan jaman. Saya pun kembali ke masa kecil, dimana dulu berjam-jam menanti bis perpustakaan keliling, mengantri masuk, bahkan berebut buku dengan teman, hal yang sangat menyenangkan, apalagi bis perpustakaan keliling masih termasuk baru, buku-buku yang dibawa juga buku baru. Setiap hari Selasa dan Kamis bis perpustakaan keliling berhenti di dekat Kantor Polisi dekat rumah.
Alangkah menyenangkannya apabila bis perpustakaan keliling kembali menyambangi anak-anak seperti dulu, sehingga anak-anak kembali menggiatkan progam membaca, tidak hanya bermain sosmed yang kadang isi dari sosmed belum layak untuk mereka terima. Mungkin memang ada e-book yang bisa di unduh dari internet, akan tetapi membaca sebuah buku jauh lebih menarik, lebih menantang dan, tentu saja lebih nyaman di mata daripada ponsel.
Hanya sekedar uneg-uneg dari seorang kutu buku..........
Jumat, 21 Oktober 2016
Memasak
Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata memasak? Senang, suka sekali, malesin, ribet dll. Demikian pula saya mendengar kata memasak pikiran langsung menuju ke dapur dengan aneka ragam peralatan dari yang kecil hingga besar. Aneka bumbu yang bahkan membedakannya aja begitu sulit, antar ketumbar dengan merica perbedaannya begitu tipis. Lengkuas, jahe, kencur, kunir dll ah betapa susahnya mengingat aneka umbi-umbian tersebut. Belum bau-bauan yang begitu menyengat hidung, seperti bawang merah, bawang putih, bahkan terasi yang membuat mual.
Sebagai seorang gadis, saya diwajibkan oleh budaya untuk bisa memasak, apalagi gadis jawa dimana semua orang mengatakan "anak wedhok kok ra tau sobo pawon" mulai dari nenek hingga ibu mengatakan hal yang sama. Tetapi saya beruntung, mempunyai kedua orang tua yang berpikiran modern, Ibu tidak pernah memaksa saya untuk bisa memasak, bahkan ke dapur saja beliau tidak memaksa, hanya saja sebagai seorang anak ada kewajiban tak tertulis untuk membantu orang tua, hal tersebut yang membuat saya mau tidak mau ke dapur, minimal membantu mencuci piring lah.
Demikianlah dengan semakin sering saya membantu ibu di dapur sedikit demi sedikit saya paham mengenai peralatan yang ada di dapur, aneka bumbu, sayuran, bahkan teknik memasak juga saya pahami. Termasuk nguleg sambel dimana hasilnya tangan pegal, panas ditambah bersin-bersin yang tidak selesai juga. Tetapi saya bertekad untuk bisa memasak, karena jika memasak saja yang sepele tidak bisa bagaimana mungkin saya bisa menyelesaikan persoalan lain yang lebih rumit, hal tersebut yang membuat jiwa muda saya tertantang #jiaaah.
Dan kesempatan untuk membuktikan tantangan hidup saya pun tiba, ceileeh lebay, hari itu dimulai saat Ibu pergi rewang ke rumah tetangga yang sedang mantu. Ibu pergi tanpa memasak terlebih dahulu, hanya meninggalkan sayuran berupa pare yang ada di kulkas, Ibu berpesan " iki mengko parene di olah yo, nek ra iso tuku lawuh wae", sebenarnya lebih mudah untuk membeli lauk ke warung hanya saja Ibu juga tidak meninggalkan uang sepeserpun, jadi kalau mau tombok ya sayang dong uangnya. Alhasil saya pun memasak. Bahan yang saya siapkan pertama kali tentu saja pare tiga buah, bawang merah, bawang putih, cabe, pete, namun setelah sekian lama bongkar kulkas tidak menemukan pete akhirnya saya menyerah ah sudahlah ganti terasi saja.
Acara memasak pun dimulai, diawali dari mengiris pare, membuang isinya, kemudian mengiris tipis-tipis dan diuleni pakai garam agar layu, setelah itu mengiris bawang merah yang diwarnai dengan drama air mata buaya, dilanjutkan bawang putih dan cabe, selesaaaaaaiiiii....... belum. Masih mentah saudara sekalian. Saya menyalakan kompor, menaruh wajan yang pantatnya legam efek dari pemakaian tungku kayu jaman dahulu, kemudian menuang minyak goreng sedikit saja untuk menumis aneka bumbu tadi.
Adegan selanjutnya adalah menumis, yah mudah lah cuma menumis kok, demikian pikiran saya. Kenyataannya tidak semudah itu, jika api terlalu besar tumisan berubah menjadi gosong demikian pula jika terlalu kecil kapan matengnyaaaaaa....... Kemudian setelah aneka bumbu tadi agak layu saya masukkan terasi, terasi instan saja merk A. Ternyata bau terasi saat dibakar atau digoreng nikmat sekali berbeda saat mentah. Setelah itu saya masukkan potongan pare yang telah dicuci bersih agar tidak terlalu pahit nantinya. Oke selesai........ belum juga, saya masih harus memberi garam, gula, dan kaldu bubuk agar masakan lebih nikmat, kemudian diberi sedikit air dan di tutup agar sayuran cepat matang, setelah beberapa menit taaaadaaaa akhirnya masakan saya matang, saya terharu.
Saya kemudian melihat jam, Oh astaga Bapak belum dhahar pagi ini, kebetulan sayur pare sudah matang dan siap dihidangkan. Saya mengambil piring kemudian menyendok nasi dan sayur pare karya saya tadi. Bapakpun terlihat makan dengan nikmat, saya bersyukur bapak kerso dhahar masakanku. Bapak tidak berkomentar apapun tentang masakan saya, berarti masakan saya cukup lumayan lah di lidah bapak. Tidak lama kemudian Ibu pulang dari rewang melihat Bapak sedang dhahar Ibu pun bertanya "Bapakmu mau tok masakke opo?", saya jawab " jangan pare Bu" Ibu diam saja, dalam hati saya bersyukur oh saya sukses memasak hari ini.
Diluar Bapak dan Ibu sedang berbincang, entah apa yang mereka perbincangkan, "ah paling juga soal tetangga yang mantu" pikir saya. Ketika saya lewat lamat-lamat terdengar suara Bapak "koyo jamu". Saya berhenti apa yang seperti jamu? Suara Bapak terdengar lagi " jangane paite nyethak, koyo bar ngombe jamu" #gubraaaaak saya terdiam. Kemudian saya mencoba memakan sayur hasil karya saya tadi, hueeeeeek rasanyaaaaa pait buanget. Tanpa sadar Ibu ada di samping saya, "kuwi jangane iseh mentah, durung mateng makane pait nyethak, kene tak balenane" kata Ibu. Ah Ibu tanpamu dunia memang terasa hampa #cry. Setelah di masak ulang oleh Ibu saya mencoba mencicipi lagi, walau masih terasa pahit tetapi lebih enak dimakan daripada awal tadi. Ternyata memasak memang tidak mudah, perlu ketekunan dan kesabaran luar biasa, walau terlihat sepele namun sulit. Menjadi seorang koki atau juru masak bahkan perlu pendidikan dan skill yang mumpuni. Walau hasilnya masih jauh dari nikmat namun, tidak membuat saya menyerah untuk belajar memasak, bahkan sampai sekarang pun saya masih belajar memasak dan belum pandai juga memasak
Memasak memang menyebalkan tetapi membuat ketagihan, Terima kasih Ibu sudah mengajari aku memasak, tetap masakanmu lah yang paling nikmat sedunia. Saya berharap bisa sepandai Ibu, dan memasak untuk keluarga kecilku nanti.
Dan kesempatan untuk membuktikan tantangan hidup saya pun tiba, ceileeh lebay, hari itu dimulai saat Ibu pergi rewang ke rumah tetangga yang sedang mantu. Ibu pergi tanpa memasak terlebih dahulu, hanya meninggalkan sayuran berupa pare yang ada di kulkas, Ibu berpesan " iki mengko parene di olah yo, nek ra iso tuku lawuh wae", sebenarnya lebih mudah untuk membeli lauk ke warung hanya saja Ibu juga tidak meninggalkan uang sepeserpun, jadi kalau mau tombok ya sayang dong uangnya. Alhasil saya pun memasak. Bahan yang saya siapkan pertama kali tentu saja pare tiga buah, bawang merah, bawang putih, cabe, pete, namun setelah sekian lama bongkar kulkas tidak menemukan pete akhirnya saya menyerah ah sudahlah ganti terasi saja.
Acara memasak pun dimulai, diawali dari mengiris pare, membuang isinya, kemudian mengiris tipis-tipis dan diuleni pakai garam agar layu, setelah itu mengiris bawang merah yang diwarnai dengan drama air mata buaya, dilanjutkan bawang putih dan cabe, selesaaaaaaiiiii....... belum. Masih mentah saudara sekalian. Saya menyalakan kompor, menaruh wajan yang pantatnya legam efek dari pemakaian tungku kayu jaman dahulu, kemudian menuang minyak goreng sedikit saja untuk menumis aneka bumbu tadi.
Adegan selanjutnya adalah menumis, yah mudah lah cuma menumis kok, demikian pikiran saya. Kenyataannya tidak semudah itu, jika api terlalu besar tumisan berubah menjadi gosong demikian pula jika terlalu kecil kapan matengnyaaaaaa....... Kemudian setelah aneka bumbu tadi agak layu saya masukkan terasi, terasi instan saja merk A. Ternyata bau terasi saat dibakar atau digoreng nikmat sekali berbeda saat mentah. Setelah itu saya masukkan potongan pare yang telah dicuci bersih agar tidak terlalu pahit nantinya. Oke selesai........ belum juga, saya masih harus memberi garam, gula, dan kaldu bubuk agar masakan lebih nikmat, kemudian diberi sedikit air dan di tutup agar sayuran cepat matang, setelah beberapa menit taaaadaaaa akhirnya masakan saya matang, saya terharu.
Saya kemudian melihat jam, Oh astaga Bapak belum dhahar pagi ini, kebetulan sayur pare sudah matang dan siap dihidangkan. Saya mengambil piring kemudian menyendok nasi dan sayur pare karya saya tadi. Bapakpun terlihat makan dengan nikmat, saya bersyukur bapak kerso dhahar masakanku. Bapak tidak berkomentar apapun tentang masakan saya, berarti masakan saya cukup lumayan lah di lidah bapak. Tidak lama kemudian Ibu pulang dari rewang melihat Bapak sedang dhahar Ibu pun bertanya "Bapakmu mau tok masakke opo?", saya jawab " jangan pare Bu" Ibu diam saja, dalam hati saya bersyukur oh saya sukses memasak hari ini.
Diluar Bapak dan Ibu sedang berbincang, entah apa yang mereka perbincangkan, "ah paling juga soal tetangga yang mantu" pikir saya. Ketika saya lewat lamat-lamat terdengar suara Bapak "koyo jamu". Saya berhenti apa yang seperti jamu? Suara Bapak terdengar lagi " jangane paite nyethak, koyo bar ngombe jamu" #gubraaaaak saya terdiam. Kemudian saya mencoba memakan sayur hasil karya saya tadi, hueeeeeek rasanyaaaaa pait buanget. Tanpa sadar Ibu ada di samping saya, "kuwi jangane iseh mentah, durung mateng makane pait nyethak, kene tak balenane" kata Ibu. Ah Ibu tanpamu dunia memang terasa hampa #cry. Setelah di masak ulang oleh Ibu saya mencoba mencicipi lagi, walau masih terasa pahit tetapi lebih enak dimakan daripada awal tadi. Ternyata memasak memang tidak mudah, perlu ketekunan dan kesabaran luar biasa, walau terlihat sepele namun sulit. Menjadi seorang koki atau juru masak bahkan perlu pendidikan dan skill yang mumpuni. Walau hasilnya masih jauh dari nikmat namun, tidak membuat saya menyerah untuk belajar memasak, bahkan sampai sekarang pun saya masih belajar memasak dan belum pandai juga memasak
Memasak memang menyebalkan tetapi membuat ketagihan, Terima kasih Ibu sudah mengajari aku memasak, tetap masakanmu lah yang paling nikmat sedunia. Saya berharap bisa sepandai Ibu, dan memasak untuk keluarga kecilku nanti.
Rabu, 19 Oktober 2016
SENJA
Senja selalu mengingatkanku akan pulang
Warna Lembayung itu menawarkan segala kehangatan
Kehangatan akan sentuhan rasa
Rasa rindu, cinta , kasih sayang
Tetapi........
Yang ada hanyalah kepedihan
Kau.....
Tetap jauh disana
Bagaimana bisa aku cemburu
Sedangkan melihatmu tersenyum saja aku tidak berhak
Melihatmu adalah kebahagianku
Senyumanmu........
Canda tawamu.......
Segala gesture tubuhmu
Tetapi senja tetaplah senja
Seindah apapun dirimu
Tak berhak aku miliki
Tidak........
Tetaplah menjadi senja yang indah
Yang walau hanya bisa kulihat
Meski menyisakan kepedihan yang mendalam
Kau tetap mengingatkanku akan pulang
Selasa, 18 Oktober 2016
Permulaan
Pada dasarnya semua ada permulaan, bahkan kehidupan manusia pun ada permulaan, dimulai dari pertemuan antara sperma dan ovum di rahim seorang wanita, hadirlah sesosok janin, yang kian lama kian membesar di rahim hingga sembilan bulan lamanya, demikian pula dunia tulis menulis, saya memulai untuk menuangkan segala curahan baik pikiran, hati, pengalaman hidup dsb. Semoga blog ini bermanfaat bagi pembaca. Terima Kasih
Langganan:
Komentar (Atom)